Minggu, 24 Juni 2012

MASALAH POKOK PEREKONOMIAN INDONESIA

Pengangguran
Definisi Pengangguran
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.
Ciri – Ciri pengangguran di Indonesia  
    Pengangguran sangatlah melekat terhadap terbatasnya tingkat perekonomian dalam kehidupan pelakunya. Kurangnya kemampuan untuk mencukupi kebutuhan sehari – harinya ditambah dengan tidak adanya pendapatan yang diperoleh, membuat pengangguran memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
  •      Melekatnya dengan tindak kriminal (premanisme), misalnya perampokan, pembegalan, pencurian 
  •    Melekatnya dengan larangan perintah agama, misalnya pelacuran yang dilakukan oleh para wanita disebabkan karena terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia yang mengakibatkan mereka harus bekerja dengan jalan yang kurang disegani.
  •           Tidak memiliki pendirian dalam hidupnya
  •            Tidak memiliki penghasilan dan tempat tinggal yang layak 
  •       Mudah berputus asa
  •      Tidak mampu mencukupi kebutuhannya 
  •            Memiliki masalah – masalah sosial dalam kehidupannya, dll.
Penyebab terjadinya pengangguran:
  1. Besarnya angkatan kerja tidak seimbang dengan kesempatan kerja
  2. Struktur lapangan kerja tidak seimbang
  3. Kebutuhan jumlah dan jenis terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang
  4. Meningkatnya peranan dan aspirasi angkatan kerja wanita dalam seluruh struktur angkatan kerja Indonesia.
  5. Penyediaan dan pemanfaatan tenaga kerja angkatan daerah tidak seimbang.
Pengangguran ini memiliki dampak yang memang sangat besar dan negatif. Masyarakat sudah sadar betul, tapi usaha penanggulangannya belum maksimal betul.
Terhadap perekonomian Negara saja, pengangguran bisa menyebabkan tidak bisanya masyarakat mencapai tingkat maksimal kemakmurannya, pendapatan nasional dari sector pajak juga sudah tentu akan berkurang, belum lagi pengangguran itu tidak menggalakan pertumbuhan ekonomi yang bisa berakibat tingkat investasi menurun sehingga pertumbuhan ekonomi tidak akan terpacu.
Selain itu dari sisi individu pelaku dan masyarakat pun kena imbas. Pengangguran tentu saja dapat menghilangkan mata pencaharian, itu sudah jelas bisa memperburuk keadaan perekonomian sebuah keluarga. Pengangguran juga dapat menghilangkan keterampilan, ini bisa terpengaruh dari sisi psikologis karena sedih atau frustasi, bisa juga karena dalam jangka waktu lama tidak pernah diasah kemampuannya. Setelah itu pengangguran akan sampai menimbulkan ketidakstabilan social politik.

Hubungan antara inflasi dan pengangguran
Di teori ekonomi makro, ada perdebatan klasik masalah inflasi dan pengangguran yang dikenal luas dengan Kurva Phillips (yang sebetulnya belum terbukti salah dan benar secara umum di semua ekonomi/negara). Hasil penelitian Profesor Philip tentang perekonomian Inggris periode 1861-1957 menunjukkan adanya hubungan negative dan non linier antara kenaikan tingkat upah/ inflasi tingkat upah (wage inflation) dengan pengangguran, seperti dalam gambar di bawah ini.





Hubungan antara Tingkat Upah dan Pengangguran


Kurva tersebut menggambarkan adanya hubungan negatif antara laju inflasi dengan pengangguran: Laju inflasi tinggi, pengangguran rendah (dan output tinggi). Akan tetapi kebalikannya juga justru dapat terjadi yakni kenaikan harga-harga secara umum, yang dilihat dari laju inflasi akan menurunkan output (produksi nasional) dan dengan sendirinya meningkatkan pengangguran. 
Tingginya angka inflasi selanjutnya akan menurunkan daya beli masyarakat. Untuk bisa bertahan pada tingkat daya beli seperti sebelumnya, para pekerja harus mendapatkan gaji paling tidak sebesar tingkat inflasi. Kalau tidak, rakyat tidak lagi mampu membeli barang-barang yang diproduksi. Jika barang-barang yang diproduksi tidak ada yang membeli maka akan banyak perusahaan yang berkurang keuntungannya. Jika keuntungan perusahaan berkurang maka perusahaan akan berusaha untuk mereduksi cost sebagai konsekuensi atas berkurangnya keuntungan perusahaan. Hal inilah yang akan mendorong perusahaan untuk mengurangi jumlah pekerja/buruhnya dengan mem-PHK para buruh. Salah satu dari jalan keluar dari krisis ini adalah menstabilkan rupiah. Membaiknya nilai tukar rupiah tidak hanya tergantung kepada money suplly dari IMF, tetapi juga investor asing (global investment society) mengalirkan modalnya masuk ke Indonesia (capital inflow). Karena hal inilah maka pengendalian laju inflasi adalah penting dalam rangka mengendalikan angka pengangguran.
Hubungan inflasi, output dan pengangguran (tiga hal yang sangat sentral dalam kebijakan makroekonomi) sangat ditentukan oleh aggregat penawaran dan permintaan terhadap barang-barang dan jasa-jasa. Apabila agregat permintaan meningkat, permintaan terhadap tenaga kerja akan meningkat (dengan sendirinya pengangguran berkurang) dan produksi nasional juga meningkat (dengan sendirinya pertumbuhan ekonomi meningkat). Akan tetapi, sebaliknya, kenaikan agregat permintaan tersebut akan menaikkan harga-harga (meningkatkan laju inflasi). Ini yang dinamakan hubungan negatif inflasi dan pengangguran. Di tahun 50-an dan 60-an, hubungan negatif ini luas ditemukan di negeri maju seperti Inggris dan Amerika. 
Bagaimana bila terjadi penurunan dalam aggregat penawaran terhadap barang-barang dan jasa-jasa? Penurunan penawaran dengan sendirinya berakibat pada “seolah” kenaikan dalam permintaan. Akibatnya harga-harga meningkat (inflasi meningkat). Akan tetapi karena penawaran menurun ini berarti permintaan terhadap tenaga kerja juga menurun yang dengan sendirinya menurunkan produksi nasional. Akhirnya yang terjadi adalah inflasi tinggi dan pengangguran tinggi (dan pertumbuhan ekonomi rendah). Ini yang luas terjadi di tahun 70-an ketika terjadi resesi ekonomi global.







Referensi
http://wkusnia.blogspot.com/2012/04/bab-13-masalah-pokok-perekonomian.html










Tidak ada komentar:

Posting Komentar